<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Loommy &#187; Renungan</title>
	<atom:link href="http://loommy.com/topics/personal-article/renungan-muhasabah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://loommy.com</link>
	<description>It&#039;s about Human, It&#039;s about Us!</description>
	<lastBuildDate>Mon, 16 Apr 2012 14:06:03 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Repost : Saya Menginginkan Seluruh Dunia Plus 5%</title>
		<link>http://loommy.com/2011/05/repost-saya-menginginkan-seluruh-dunia-plus-5/</link>
		<comments>http://loommy.com/2011/05/repost-saya-menginginkan-seluruh-dunia-plus-5/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 May 2011 13:46:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>loommy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Human]]></category>
		<category><![CDATA[Inspiration]]></category>
		<category><![CDATA[Just Written It!]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Social]]></category>
		<category><![CDATA[Urban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://loommy.com/?p=344</guid>
		<description><![CDATA[Fabian sangat bahagia karena dia akan menyampaikan sebuah pidato ke masyarakat besok. Dia selalu menginginkan kekayaan dan kekuasaan dan sekarang impiannya akan segera menjadi kenyataan. Dia adalah seorang tukang emas, mengukir emas dan perak menjadi perhiasan, tetapi semakin lama semakin tidak puas karena harus bekerja keras dalam hidupnya. Fabian menginginkan kesenangan, dan juga tantangan, dan<a class="rmore" href="http://loommy.com/2011/05/repost-saya-menginginkan-seluruh-dunia-plus-5/">&#160;&#160; Read More ...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Fabian sangat bahagia karena dia akan menyampaikan sebuah pidato ke masyarakat besok. Dia selalu menginginkan kekayaan dan kekuasaan dan sekarang impiannya akan segera menjadi kenyataan. Dia adalah seorang tukang emas, mengukir emas dan perak menjadi perhiasan, tetapi semakin lama semakin tidak puas karena harus bekerja keras dalam hidupnya. Fabian menginginkan kesenangan, dan juga tantangan, dan sekarang rencana barunya siap untuk dimulai.</p>
<div style="text-align: justify;"><a href="http://4.bp.blogspot.com/_7LQmI5UUQpg/SY-jk0njw6I/AAAAAAAAAPQ/mgGDpz8useg/s1600-h/1-speech1x1.gif"><img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5300635139433546658" class="aligncenter" src="http://4.bp.blogspot.com/_7LQmI5UUQpg/SY-jk0njw6I/AAAAAAAAAPQ/mgGDpz8useg/s200/1-speech1x1.gif" alt="" border="0" /></a>Selama puluhan generasi, masyarakat terbiasa dengan sistem perdagangan barter. Seseorang akan menghidupi keluarganya dengan memproduksi semua yang mereka butuhkan ataupun mengkhususkan diri dalam perdagangan produk tertentu. Kelebihan dari yang dia produksi, akan dia tukarkan dengan kelebihan barang lain yang diproduksi orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-344"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Pasar setiap hari ramai dan bersemangat, orang-orang berteriak dan melambaikan dagangannya. Sebelumnya pasar adalah tempat yang menyenangkan, tetapi sekarang jumlah orang terlalu banyak, pertengkaran pun semakin banyak. Tidak ada lagi waktu untuk ngobrol dan bercanda, sebuah sistem yang lebih baik mulai diperlukan.</p>
<p><a href="http://2.bp.blogspot.com/_7LQmI5UUQpg/SY-jlErs8RI/AAAAAAAAAPY/kzxTzfIH9-c/s1600-h/2-market1x1.gif"><img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5300635143745892626" class="aligncenter" src="http://2.bp.blogspot.com/_7LQmI5UUQpg/SY-jlErs8RI/AAAAAAAAAPY/kzxTzfIH9-c/s200/2-market1x1.gif" alt="" border="0" /></a><br />
Secara umum, orang-orang relatif bahagia, dan mereka menikmati buah dari hasil kerja keras mereka.</p>
<p>Di setiap komunitas dibentuk sebuah pemerintahan yang sederhana yang tugasnya menjaga agar kebebasan dan hak setiap anggota masyarakat dilindungi dan untuk memastikan bahwa tak seorang pun akan dipaksa untuk melakukan hal yang tidak dia inginkan oleh siapapun juga.</p>
<p><a href="http://2.bp.blogspot.com/_7LQmI5UUQpg/SY-jlNLMY2I/AAAAAAAAAPg/WpAIudVPGvc/s1600-h/3-law1x1.gif"><img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5300635146025460578" class="aligncenter" src="http://2.bp.blogspot.com/_7LQmI5UUQpg/SY-jlNLMY2I/AAAAAAAAAPg/WpAIudVPGvc/s200/3-law1x1.gif" alt="" border="0" /></a><br />
INI ADALAH TUJUAN SATU-SATUNYA DARI PEMERINTAH (GOVERNMENT) DAN SETIAP ANGGOTA PEMERINTAH DIPILIH SECARA SUKARELA OLEH ANGGOTA KOMUNITAS YANG ADA.</p>
<p>Namun, ada masalah yang tidak bisa mereka selesaikan di perdagangan pasar sehari-hari… Apakah sebelah pisau senilai dengan dua keranjang jagung? Apakah seekor kerbau lebih berharga dari seekor ayam…? Orang-orang menginginkan sistem yang lebih baik.</p>
<p>Fabian mengiklankan diri kepada masyarakat, “Saya punya solusi atas masalah barter yang kita alami, dan saya mengundang kalian semua untuk sebuah pertemuan publik besok harinya.”</p>
<p>Besok harinya orang-orang pun berkumpul di tengah kota dan Fabian menjelaskan kepada mereka konsep tentang “uang”. Masyarakat yang mendengarkan pidatonya terkesan dan ingin mendengar lebih banyak.</p>
<p><a href="http://2.bp.blogspot.com/_7LQmI5UUQpg/SY-jlQUn1rI/AAAAAAAAAPo/sm02dNOU6Sc/s1600-h/4-meeting1x1.gif"><img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5300635146870314674" class="aligncenter" src="http://2.bp.blogspot.com/_7LQmI5UUQpg/SY-jlQUn1rI/AAAAAAAAAPo/sm02dNOU6Sc/s200/4-meeting1x1.gif" alt="" border="0" /></a>“Emas yang saya produksi menjadi perhiasan adalah logam yang luar biasa. Dia tidak akan berkarat, dan bisa bertahan sangat lama. Saya akan membuat emas dalam bentuk koin dan kita akan menyebut setiap koin dengan nama dolar”</p>
<p>Fabian menjelaskan konsep tentang nilai, dan bahwa “uang” akan menjadi medium pertukaran barang, sebuah sistem yang lebih baik daripada barter.</p>
<p>Salah satu dari anggota pemerintah bertanya “Tetapi orang tertentu bisa menambang emas sendiri dan membuat koin untuk diri mereka sendiri”</p>
<p>“Ini tidak boleh diterima” kata Fabian. “Hanya koin-koin yang disetujui pemerintah yang boleh digunakan, dan kita akan membuat stempel khusus di koin-koin tersebut.” Ini kedengarannya masuk akal dan orang-orang pun mulai menyarankan agar setiap orang mendapatkan sama banyak. “Tetapi saya yang paling pantas mendapatkan lebih” kata si pembuat lilin. “Tidak, saya lah yang berhak mendapatkan lebih,” kata si petani. Dan pertengkaran pun dimulai.</p>
<p>Fabian membiarkan mereka bertengkar selama beberapa saat, kemudian berkata, “Karena tidak ada kesepakatan di antara kalian semua, biarlah saya yang menentukan angkanya buat Anda. Tidak ada batasan berapa koin yang akan Anda dapatkan dari saya, semua tergantung kemampuan Anda untuk membayar. Semakin banyak yang Anda dapatkan, semakin banyak yang harus Anda kembalikan tahun depan.”</p>
<p>“Lalu apa yang akan kamu dapatkan?” kata salah satu pendengar.</p>
<p>“Karena saya yang menyediakan jasa ini, yaitu suplai uang, maka saya berhak mendapatkan bayaran dari kerja kerasku. Untuk setiap 100 koin yang Anda dapatkan dari saya, Anda akan membayarkan kembali kepadaku sebanyak 105 koin tahun depannya. 5 koin ini adalah bayaranku, dan saya akan menyebutnya bunga.”</p>
<p>Kedengarannya tidak terlalu buruk, lagipula 5% sepertinya tidak banyak. Maka orang-orang pun setuju. Mereka sepakat untuk bertemu seminggu kemudian dan memulai sistem baru ini.</p>
<p><a href="http://4.bp.blogspot.com/_7LQmI5UUQpg/SY-kbOAqiXI/AAAAAAAAAPw/-czv2oYZI88/s1600-h/5-coinmaker1x1.gif"><img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5300636073962670450" class="aligncenter" src="http://4.bp.blogspot.com/_7LQmI5UUQpg/SY-kbOAqiXI/AAAAAAAAAPw/-czv2oYZI88/s200/5-coinmaker1x1.gif" alt="" border="0" /></a>Fabian tidak membuang waktu. Dia membuat koin emas siang dan malam, dan seminggu kemudian dia pun siap dengan koinnya. Orang-orang antri panjang di depan tokonya. Setelah dicek dan disetujui oleh pemerintah, koin emas Fabian resmi diedarkan. Sebagian orang hanya meminjam sedikit koin, setelah itu mereka segera pergi ke pasar mencoba sistem baru ini.</p>
<p>Masyarakat segera menyadari sisi baik dari sistem ini, dan mereka pun mulai menilai harga setiap barang dengan koin emas atau dolar. Orang-orang memberikan harga pada dagangannya sesuai dengan usaha untuk memproduksi barang tersebut. Barang yang mudah diproduksi harganya lebih rendah, dan barang yang sulit diproduksi harganya lebih mahal.</p>
<p><a href="http://1.bp.blogspot.com/_7LQmI5UUQpg/SY-kbRoyLiI/AAAAAAAAAP4/x4E7Hr_9i-M/s1600-h/6-hands1x1.gif"><img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5300636074936249890" class="aligncenter" src="http://1.bp.blogspot.com/_7LQmI5UUQpg/SY-kbRoyLiI/AAAAAAAAAP4/x4E7Hr_9i-M/s200/6-hands1x1.gif" alt="" border="0" /></a>Alan adalah seorang tukang jam. Satu-satunya di kotanya. Jam yang dia buat sangatlah mahal, tetapi orang-orang bersedia membayar untuk mendapatkan jam yang dia buat. Dan kemudian ada seorang lain yang juga mulai membuat jam dan menjualnya dengan harga yang lebih murah. Alan pun terpaksa menurunkan harga jamnya. Kedua orang ini bersaing memproduksi jam dengan kualitas terbaik dengan harga yang lebih murah. Ini adalah asal muasal dari apa yang kita sebut kompetisi.</p>
<p><a href="http://2.bp.blogspot.com/_7LQmI5UUQpg/SY-kbckPmyI/AAAAAAAAAQA/_0lF4S--764/s1600-h/7-shop1x1.gif"><img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5300636077869996834" class="aligncenter" src="http://2.bp.blogspot.com/_7LQmI5UUQpg/SY-kbckPmyI/AAAAAAAAAQA/_0lF4S--764/s200/7-shop1x1.gif" alt="" border="0" /></a>Hal yang sama terjadi juga kepada para kontraktor, operator transportasi, akuntan, petani, dan lainnya. Para pembeli selalu memilih transaksi yang menurut mereka paling menguntungkan, mereka memiliki kebebasan untuk memilih. Tidak ada perlindungan buatan semacam lisensi ataupun cukai tarif untuk menghambat orang-orang memulai perdagangan. Standar hidup masyarakat mulai meningkat, dan tak lama kemudian orang-orang pun tidak bisa membayangkan sebuah sistem perdangan tanpa uang.</p>
<p>Setahun kemudian, Fabian pun mulai mendatangi orang-orang yang berhutang kepadanya. Orang-orang tertentu memiliki koin emas lebih dari yang mereka pinjam, tetapi ini berarti ada orang lainnya yang memiliki lebih sedikit dari yang mereka pinjam, sebab jumlah koin yang dibuat pada awalnya memang terbatas jumlahnya. Orang-orang yang memiliki koin lebih membayar kepada Fabian dan juga 5% bunganya, tetapi mereka kemudian meminjam lagi kepadanya untuk melanjutkan sistem perdagangan di tahun mendatang.</p>
<p><a href="http://3.bp.blogspot.com/_7LQmI5UUQpg/SY-kbikvy7I/AAAAAAAAAQI/AMvf-AWcvt4/s1600-h/8-debt1x1.gif"><img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5300636079482719154" class="aligncenter" src="http://3.bp.blogspot.com/_7LQmI5UUQpg/SY-kbikvy7I/AAAAAAAAAQI/AMvf-AWcvt4/s200/8-debt1x1.gif" alt="" border="0" /></a>Sebagian orang mulai menyadari untuk pertama kalinya seperti apa rasanya hutang. Sebelum mereka bisa meminjam kembali kepada Fabian, kali ini mereka harus menjaminkan aset-aset kepadanya, dan mereka pun melanjutkan perdagangan selama setahun mendatang, mencoba mendapatkan 5 koin lebih untuk setiap 100 koin yang mereka pinjam dari Fabian.</p>
<p>Saat itu, belum ada seorang pun yang menyadari bahwa seluruh masyarakat, sekalipun mengembalikan semua hutang koin mereka, tetap tidak bisa melunasi hutang mereka kepada Fabian, karena kelebihan 5% koin emas yang merupakan kewajiban mereka tidak pernah diedarkan oleh Fabian. Tak seorang pun selain Fabian yang mengetahui bahwa adalah hal yang mustahil bagi masyaratkat ini untuk bisa melunasi hutang mereka bila ditambahkan dengan bunga, uang yang tidak pernah dia edarkan.</p>
<p>Memang benar Fabian sendiri juga membuat koin untuk dirinya sendiri dan koin ini akan beredar di masyarakat, namun tidak mungkin dia sanggup mengkonsumsi 5% dari semua barang di masyarakat.</p>
<p>Di dalam toko emasnya, Fabian memiliki sebuah ruang penyimpanan yang sangat kuat, dan sebagian masyarakat merasa lebih aman kalau menitipkan koin emas mereka kepada Fabian untuk disimpan. Fabian akan menagih sejumlah uang tertentu sebagai jasa penyimpanan untuk orang-orang tersebut. Sebagai bukti atas deposit emas mereka, Fabian memberikan mereka selembar kertas kwitansi.</p>
<p><a href="http://4.bp.blogspot.com/_7LQmI5UUQpg/SY-lU64LhCI/AAAAAAAAAQQ/0rD6TT6NoM0/s1600-h/9-vault1x1.gif"><img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5300637065259222050" class="aligncenter" src="http://4.bp.blogspot.com/_7LQmI5UUQpg/SY-lU64LhCI/AAAAAAAAAQQ/0rD6TT6NoM0/s200/9-vault1x1.gif" alt="" border="0" /></a></p>
<p>Orang-orang yang membawa kwitansi dari Fabian ini bisa menggunakan kertas ini untuk membeli barang sama halnya seperti menggunakan koin emas. Dan lama-kelamaan kertas-kertas ini beredar di masyarakat sebagai uang sama seperti koin emas.</p>
<p>Tak lama kemudian, Fabian menemukan bahwa kebanyakan orang tidak akan menukarkan kembali kwitansi deposit mereka dengan koin emasnya.</p>
<p>Dia pun berpikir, “Saya memiliki semua emas di sini dan saya masih juga bekerja sebagai tukang emas. Ini benar-benar tak masuk akal. Ada ribuan orang di luar sana yang akan membayarkan bunga kepada saya atas koin-koin emas yang mereka titipkan kembali kepada saya yang bahkan tidak mereka tukarkan kembali.”</p>
<p>Memang benar, emas-emas mereka bukan milikku, tetapi emas-emas itu ada di dalam gudangku, dan itulah yang penting. Saya tidak perlu membuat koin sama sekali, saya bisa menggunakan koin-koin yang dititipkan kepadaku.</p>
<p>Mulanya Fabian sangat hati-hati, dia hanya meminjamkan sebagian kecil dari emas yang dititipkan orang kepadanya. Lama-kelamaan, karena terbukti tidak ada masalah, dia pun meminjamkan dalam jumlah yang lebih besar.</p>
<p>Suatu hari, seseorang mengajukan sebuah pinjaman yang nilainya sangat besar. Fabian berkata kepadanya “daripada membawa koin emas dalam jumlah sebesar itu, bagaimana kalau saya menulis beberapa lembar kwitansi emas kepadamu sebagai bukti depositmu kepadaku.” Orang itu pun setuju. Dia mendapatkan hutang yang dia inginkan tetapi emasnya tetap di gudang Fabian! Setelah orang itu pergi, Fabian pun tersenyum, dia bisa meminjamkan emas kepada orang sambil mempertahankan emas di gudangnya sendiri.</p>
<p>Baik teman, orang tak dikenal, maupun musuh, membutuhkan uang untuk melanjutkan perdagangan mereka. Selama orang-orang bisa memberikan jaminan, mereka bisa meminjam sebanyak yang mereka butuhkan. Dengan hanya menuliskan kwitansi, Fabian bisa meminjamkan emas-emasnya senilai beberapa kali lipat dari yang sebenarnya dia miliki. Segalanya akan baik-baik saja selama orang-orang tidak menukarkan kwitansi deposit emas mereka kepada Fabian.</p>
<p>Fabian memiliki sebuah buku yang menunjukkan debit dan kredit dari setiap orang. Bisnis simpan-pinjam ini benar-benar sangat menguntungkan baginya.</p>
<p><a href="http://4.bp.blogspot.com/_7LQmI5UUQpg/SY-lU1V7j9I/AAAAAAAAAQY/LxRQcl0449Q/s1600-h/10-debt1x1.gif"><img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5300637063773392850" class="aligncenter" src="http://4.bp.blogspot.com/_7LQmI5UUQpg/SY-lU1V7j9I/AAAAAAAAAQY/LxRQcl0449Q/s200/10-debt1x1.gif" alt="" border="0" /></a><br />
Status sosial Fabian di masyarakat meningkat secepat kekayaannya. Dia mulai menjadi orang penting, dia harus dihormati. Di dunia finansial, kata-katanya adalah ibarat sabda suci.</p>
<p>Tukang emas dari kota lain mulai penasaran tentang rahasia Fabian dan suatu hari mereka pun mengunjunginya. Fabian memberitahu apa yang dia lakukan, dan menekankan kepada mereka pentingnya kerahasiaan dari sistem ini.</p>
<p><a href="http://4.bp.blogspot.com/_7LQmI5UUQpg/SY-mblX8NcI/AAAAAAAAAQw/08dQ8JlvEOU/s1600-h/11-gang1x1.gif"><img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5300638279257568706" class="aligncenter" src="http://4.bp.blogspot.com/_7LQmI5UUQpg/SY-mblX8NcI/AAAAAAAAAQw/08dQ8JlvEOU/s200/11-gang1x1.gif" alt="" border="0" /></a>Seandainya skema ini terekspos, bisnis mereka pasti akan ditutup, jadi mereka sepakat untuk menjaga kerahasiaan bisnis ini.</p>
<p>Masing-masing tukang emas ini kembali ke kota mereka dan menjalankan operasi seperti yang diajarkan oleh Fabian.</p>
<p>Orang-orang menerima kwitansi emas sama seperti emas itu sendiri, dan banyak emas yang masyarakat pinjam yang akan dititipkan kembali kepada Fabian. Ketika seorang pedagang ingin membayar kepada pedagang lainnya, mereka bisa menuliskan sebuah instruksi kepada Fabian untuk memindahkan uang dari rekening mereka kepada rekening lainnya, yang akan dilakukan oleh Fabian dengan mudah dalam beberapa menit. Sistem ini menjadi sangat populer, dan kertas instruksi ini pun mulai dikenal dengan sebutan “cek.”</p>
<p>Pada suatu malam, para tukang emas dari berbagai kota ini mengadakan sebuah pertemuan rahasia dan Fabian mengajukan sebuah rencana baru. Besok harinya mereka rapat dengan pemerintah dan Fabian berkata, “Kertas kwitansi kami telah menjadi sangat populer. Tak perlu diragukan, Anda para wakil rakyat juga menggunakan mereka dan manfaatnya jelas-jelas sangat memuaskan. Namun, sebagian kwitansi ini telah dipalsukan oleh orang-orang. Hal ini harus dihentikan!”</p>
<p>Para anggota pemerintah pun mulai khawatir. “Apa yang bisa kami lakukan? Tanya mereka. Jawaban Fabian “Pertama-tama, adalah tugas dari pemerintah untuk mencetak uang kertas dengan desain dan tinta yang unik, dan masing-masing uang kertas ini harus ditandatangani oleh Gubernur. Kami para tukang emas akan dengan senang hati membayar biaya cetak ini, ini juga akan menghemat banyak waktu kami untuk menulis kwitansi.” Para anggota pemerintah berpikir “Ya, memang kewajiban kami untuk melindungi masyarakat dari pemalsuan uang dan nasehat dari Fabian ini kedengarannya memang masuk akal.” Dan mereka pun setuju untuk mencetak uang kertas ini.</p>
<p><a href="http://3.bp.blogspot.com/_7LQmI5UUQpg/SY-sMkzjwOI/AAAAAAAAASY/NgZjOlPwpdE/s1600-h/20-banknote1x1.gif"><img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5300644618476699874" class="aligncenter" src="http://3.bp.blogspot.com/_7LQmI5UUQpg/SY-sMkzjwOI/AAAAAAAAASY/NgZjOlPwpdE/s200/20-banknote1x1.gif" alt="" border="0" /></a><br />
“Yang kedua”, kata Fabian, “sebagian orang juga pergi menambang emas dan membuat koin emas mereka sendiri. Saya menyarankan agar dibuat sebuah hukum agar setiap orang yang menemukan emas harus menyerahkannya. Tentu saja, mereka akan mendapat ganti rugi koin yang saya buat dan uang kertas baru.”</p>
<p>Ide ini pun mulai dijalankan. Pemerintah mencetak uang kertas baru dengan pecahan $1, $2, $5, $10, dan lainnya. Biaya cetak yang rendah ini dibayarkan oleh parang tukang emas.</p>
<p>Uang kertas ini jauh lebih gampang untuk dibawa dan dalam waktu singkat diterima oleh masyarakat. Namun, di luar faktor kenyamanan, ternyata uang kertas dan koin emas yang beredar hanyalah 10% dari nilai transaksi masyarakat. Kenyataan perdagangan menunjukkan bahwa 90% nilai transaksi dilakukan dengan cara pindah buku (cek).</p>
<p>Rencana berikut Fabian mulai berjalan. Sampai saat itu, orang-orang membayar Fabian untuk menitipkan koin emas (uang) mereka. Untuk menarik lebih banyak uang ke gudangnya, Fabian akan membayar para depositor 3% bunga atas emas titipan mereka.</p>
<p><a href="http://3.bp.blogspot.com/_7LQmI5UUQpg/SY-mbi-Hg5I/AAAAAAAAAQ4/KG-syH6Ff_8/s1600-h/13interest1x1.gif"><img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5300638278612386706" class="aligncenter" src="http://3.bp.blogspot.com/_7LQmI5UUQpg/SY-mbi-Hg5I/AAAAAAAAAQ4/KG-syH6Ff_8/s200/13interest1x1.gif" alt="" border="0" /></a><br />
Kebanyakan orang mengira Fabian meminjamkan kembali uang yang dititipkan kepadanya. Karena dia meminjamkan kepada orang lain dengan bunga 5%, dan dia membayar para deposan 3%, maka keuntungan Fabian adalah 2%. Orang-orang pun berpikir jauh lebih baik mendapatkan 3% daripada membayar Fabian untuk menjaga emas (uang) mereka, dan mereka pun tertarik.</p>
<p>Volume tabungan meningkat dengan cepat di gudang Fabian. Dia bisa meminjamkan uang kertas $200, $300, $400, bahkan sampai sampai $900 untuk setiap $100 yang dia dapatkan dari deposan. Dia harus berhati-hati dengan ratio 9:1 ini, sebab menurut pengalamannya, memang ada 1 dari setiap 9 orang yang akan menarik emas mereka. Bila tidak ada cukup uang saat diperlukan, masyarakat akan curiga.</p>
<p>Dengan demikian, untuk $900 dolar pinjaman yang diberikan Fabian, dengan bunga 5% dia akan mendapatkan kembali $45. Ketika pinjaman + bunga ini dilunasi, Fabian akan membatalkan $900 di kolom debit pembukuannya dan sisa $45 ini adalah miliknya. Dia dengan senang hati akan membayar bunga $3 untuk setiap $100 yang dititipkan deposan kepadanya. Artinya, keuntungan riil dari Fabian adalah $42! Bukan $2 yang dibayangkan kebanyakan orang. Para tukang emas di kota-kota lain melakukan hal yang sama. Mereka menciptkaan kredit (pinjaman) tanpa modal (emas) dan menagih bunga atas pinjaman mereka.</p>
<p>Para tukang emas ini tidak lagi membuat koin emas, pemerintahlah yang mencetak uang kertas dan koin dan memberikannya kepada para tukang emas ini untuk didistribusikan. Satu-satunya biaya Fabian adalah ongkos cetak uang yang sangat murah. Di samping itu, dia juga menciptakan kredit tanpa modal dan menagih bunga atas pinjaman barunya ini. Kebanyakan orang mengira suplai uang adalah operasi dari pemerintah. Mereka juga percaya bahwa Fabian meminjamkan uang dari para deposan kepada peminjam baru, tetapi rasanya agak heran mengapa orang lain bisa mendapatkan uang padahal uang para deposan masih tetap tak berkurang. Seandainya semua orang mencoba mengambil uang mereka pada saat yang bersamaan, skema penipuan ini akan terekspos.</p>
<p>Tak masalah bila sebuah pinjaman diajukan dalam bentuk uang kertas atau koin. Fabian tinggal mengatakan kepada pemerintah bahwa penduduk bertambah dan produksi baru memerlukan uang baru, yang akan dia dapatkan dengan biaya cetak yang sangat kecil.</p>
<p>Suatu hari seseorang pergi menemui Fabian. “Bunga yang Anda tagih ini salah,” katanya. “Untuk setiap $100 yang Anda pinjamkan, Anda meminta $105 sebagai kembalinya. $5 extra ini tidak mungkin bisa dibayarkan karena mereka bahkan tidak eksis.</p>
<p>”Petani memproduksi makanan, industri memproduksi barang, tetapi hanya Andalah yang memproduksi uang. Katakanlah hanya ada dua pedagang di negara ini, dan semua orang bekerja untuk salah satunya. Mereka masing-masing meminjam $100. Setahun kemudian, mereka harus mengembalikan masing-masing $105 kepada Anda (total $210). Bila salah satu orang berhasil menjual habis dagangannya dan mendapatkan $105, orang yang tersisa hanya akan memiliki $95, dia masih berhutang $10 kepadamu, dan tidak ada uang yang beredar untuk melunasi $10 ini kecuali dia mengajukan pinjaman baru kepadamu. Sistem ini bermasalah!”</p>
<p><a href="http://3.bp.blogspot.com/_7LQmI5UUQpg/SY-mb7hqDQI/AAAAAAAAARA/SWlmJ6qgqTs/s1600-h/14-banker1x1.gif"><img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5300638285203901698" class="aligncenter" src="http://3.bp.blogspot.com/_7LQmI5UUQpg/SY-mb7hqDQI/AAAAAAAAARA/SWlmJ6qgqTs/s200/14-banker1x1.gif" alt="" border="0" /></a><br />
“Untuk setiap $100 yang kamu pinjamkan, kamu seharusnya mengedarkan $100 kepada sang peminjam dan $5 untuk kamu belanjakan, jadi total uang yang beredar memungkinan si peminjam untuk membayar”</p>
<p>Fabian mendengarkan dengan tenang dan menjawab, “Dunia finansial adalah subjek yang rumit, anak muda, butuh waktu bertahun-tahun untuk memahaminya. Biarkan saya saja yang memikirkan masalah ini, dan kamu mengurus urusanmu saja. Kamu harus belajar untuk menjadi lebih efisien, meningkatkan produksimu, memotong ongkos pabrikmu dan menjadi pengusaha yang lebih cerdas. Saya siap membantu untuk urusan itu.”</p>
<p>Orang ini pun pergi meninggalkan Fabian, tetapi hatinya masih juga bimbang. Sepertinya ada yang tidak beres dengan sistem kerja Fabian, dan pertanyaan yang dia ajukan masih belum dijawab.</p>
<p>Orang-orang menghormati Fabian dan kata-katanya. Dia adalah pakar, orang yang tidak setuju dengannya pastilah orang bodoh. Lihatlah betapa negara ini bertambah maju, produksi kita juga terus bertumbuh, kehidupan kita sudah jauh lebih baik.</p>
<p>Untuk menutup bunga dari uang yang mereka pinjam, para pedagang dan pengusaha meninggikan harga dagangan mereka. Karyawan senantiasa memprotes mereka dibayar terlalu rendah dan pemilik perusahaan senantiasa menolak membayar lebih. Petani tidak bisa mendapatkan harga jual yang adil dari produk pertanian mereka. Para Ibu rumah tangga terus merasa tidak puas karena harga barang di pasar dinilai terlalu tinggi.</p>
<p><a href="http://2.bp.blogspot.com/_7LQmI5UUQpg/SY-mb32tJgI/AAAAAAAAARI/q25ZhMV29jc/s1600-h/15-protest1x1.gif"><img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5300638284218443266" class="aligncenter" src="http://2.bp.blogspot.com/_7LQmI5UUQpg/SY-mb32tJgI/AAAAAAAAARI/q25ZhMV29jc/s200/15-protest1x1.gif" alt="" border="0" /></a><br />
Pada suatu ketika, orang-orang akhirnya mulai berdemonstrasi, hal yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sebagian orang tidak sanggup melunasi hutang mereka dan menjadi miskin. Teman dan saudara mereka pun tidak sanggup untuk menolong. Mereka lupa kekayaan yang sebenarnya masih berlimpah di sekeliling mereka : tanah yang subur, hutan yang kaya, mineral yang berlimpah dan juga ternak-ternak yang sehat. Yang mereka pikirkan sepanjang hari adalah uang yang rasanya selalu kurang. Mereka tidak pernah bertanya tentang sistem. Mereka percaya pemerintahlah yang sedang menjalankan sistem ini.</p>
<p>Sebagian kecil orang di masyarakat yang kelebihan uang mulai membentuk perusahaan mereka sendiri untuk meminjamkan uang mereka. Mereka menagih bunga 6% atas uang mereka, lebih baik dari 3% yang ditawarkan oleh Fabian. Namun orang-orang ini meminjamkan uang mereka sendiri, tidak seperti Fabian yang bisa meminjamkan uang / menciptakan kredit tanpa modal.</p>
<p>Perusahaan-perusahaan pembiayaan ini tetap membuat khawatir Fabian dan kawan-kawannya, jadi mereka pun membentuk perusahaan pembiayaan mereka sendiri. Dalam kebanyakan kasus, mereka membeli perusahaan-perusahaan pembiayaan saingan mereka tersebut. Pada akhirnya, semua perusahaan pembiayaan dimiliki ataupun dalam kendali mereka.</p>
<p>Situasi ekonomi terus memburuk. Para pegawai mulai yakin bos mereka mendapatkan terlalu banyak keuntungan. Pemilik perusahaan pun menilai pegawainya terlalu malas dan tidak cukup bekerja keras. Semua orang mulai menyalahkan orang lain. Pemerintah bingung bagaimana menyelesaikan masalah ini. Masalah paling mendesak tentunya adalah bagaimana menolong orang yang paling miskin.</p>
<p>Pemerintah pun memulai sebuah program sosial dan memaksa anggota masyarakat untuk membayar sistem ini. Hal ini membuat marah sebagian orang, mereka percaya kepada gagasan lama bahwa membantu orang seharusnya adalah usaha suka rela, bukan paksaan.</p>
<p><a href="http://1.bp.blogspot.com/_7LQmI5UUQpg/SY-mcHJHAgI/AAAAAAAAARQ/_NJVMINUIww/s1600-h/16-dole1x1.gif"><img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5300638288322167298" class="aligncenter" src="http://1.bp.blogspot.com/_7LQmI5UUQpg/SY-mcHJHAgI/AAAAAAAAARQ/_NJVMINUIww/s200/16-dole1x1.gif" alt="" border="0" /></a><br />
“Peraturan ini adalah perampokan yang dilegalkan. Mengambil sesuatu dari seseorang, dengan menentang keinginan dari orang yang bersangkutan, apapun tujuannya, tidaklah berbeda dengan mencuri darinya.”</p>
<p>Namun orang-orang tak berdaya karena bila tidak membayar mereka akan dimasukkan ke dalam penjara. Program sosial ini selama beberapa waktu memang membantu keadaan, tetapi tak lama kemudian masalah kemiskinan muncul kembali dan uang yang diperlukan untuk menjalankan sistem ini pun terus bertambah. Ongkos sosial terus meningkat, demikian juga dengan skala pemerintahan.</p>
<p>Kebanyakan wakil rakyat adalah orang-orang yang tulus melakukan pekerjaan mereka dengan benar. Mereka pun tidak menyukai gagasan terus-menerus meminta uang dari masyarakat. Akhirnya, mereka mencari pinjaman dari Fabian dan kawan-kawannya. Mereka bahkan tidak mengetahui bagaimana mereka bisa membayar. Orang tua mulai tidak sanggup membayar biaya sekolah anak-anaknya. Sebagian orang tidak sanggup membayar biaya dokter dan obat-obatan. Operator transportasi pun mulai gulung tikar.</p>
<p>Satu demi satu usaha diambil alih pemerintah. Guru, dokter, dan banyak pekerjaan lainnya mulai menjadi tanggung jawab pemerintah.</p>
<p>Tidak banyak orang yang mendapatkan kepuasan di pekerjaannya. Mereka dibayar gaji yang wajar, tetapi kehilangan jati diri. Mereka menjadi budak dari sebuah sistem.</p>
<p>Tidak banyak ruang untuk inisiatif, sedikit penghargaan atas usaha pribadi, pendapatan mereka relatif tetap dan naik pangkat terjadi hanya kalau atasan mereka pensiun ataupun mati.</p>
<p><a href="http://1.bp.blogspot.com/_7LQmI5UUQpg/SY-of3R4OuI/AAAAAAAAARY/syPwXj2xnSs/s1600-h/17-list1x1.gif"><img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5300640551806712546" class="aligncenter" src="http://1.bp.blogspot.com/_7LQmI5UUQpg/SY-of3R4OuI/AAAAAAAAARY/syPwXj2xnSs/s200/17-list1x1.gif" alt="" border="0" /></a></p>
<p>Di tengah keputusasaan, pemerintah akhirnya meminta nasehat dari Fabian. Mereka menganggapnya sebagai orang bijak dan selalu memiliki solusi atas permasalahan uang. Fabian mendengar keluhan dari pemerintah dan akhirnya menjawab, “Banyak orang yang tidak bisa menyelesaikan persoalan mereka, mereka membutuhkan orang lain untuk melakukannya. Tentu Anda setuju bahwa semua orang berhak atas kebahagiaan dan berhak atas semua kebutuhan pokok mereka bukan? Satu-satunya cara untuk menyeimbangkan situasi adalah mengambil dari yang kaya dan memberikan kepada yang miskin. Kenalkan sebuah sistem baru yaitu pajak. Semakin banyak kekayaan seseorang, semakin banyak dia harus membayar pajak. Sekolah dan rumah sakit seharusnya gratis bagi mereka yang tidak sanggup membayar…”</p>
<p>Selesai memberikan nasehat, Fabian pun tidak lupa mengingatkan pemerintah, “Hm, jangan lupa Anda masih berhutang kepada saya. Tetapi baiklah, saya akan membantu Anda. Sekarang Anda hanya perlu membayar bunga kepada saya, Anda bisa menunda pembayaran hutang pokok kepada saya.”</p>
<p>Pemerintah mempercayai Fabian, dan mereka pun segera memperkenalkan pajak penghasilan, semakin banyak yang Anda dapatkan, semakin tinggi pajak yang Anda bayarkan. Tak seorang pun anggota masyarakat yang setuju. Namun, sama seperti sebelumnya, mereka harus membayar atau masuk penjara.</p>
<p>Pedagang lagi-lagi harus menaikkan harga jual barangnya. Para pegawai kembali menuntut kenaikan gaji, bisnis-bisnis mulai gulung tikar, ataupun mulai mengganti tenaga manusia dengan mesin. Siklus ini berulang-ulang dan memaksa pemerintah memperkenalkan berbagai skema-skema sosial lainnya.</p>
<p><a href="http://4.bp.blogspot.com/_7LQmI5UUQpg/SY-qXHsO8wI/AAAAAAAAASI/ZjPC1pCFfNc/s1600-h/15-protest1x1.gif"><img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5300642600616653570" class="aligncenter" src="http://4.bp.blogspot.com/_7LQmI5UUQpg/SY-qXHsO8wI/AAAAAAAAASI/ZjPC1pCFfNc/s200/15-protest1x1.gif" alt="" border="0" /></a><br />
<a href="http://1.bp.blogspot.com/_7LQmI5UUQpg/SY-qXOw_QwI/AAAAAAAAASQ/k_1waP0MnuY/s1600-h/16-dole1x1.gif"><img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5300642602515645186" class="aligncenter" src="http://1.bp.blogspot.com/_7LQmI5UUQpg/SY-qXOw_QwI/AAAAAAAAASQ/k_1waP0MnuY/s200/16-dole1x1.gif" alt="" border="0" /></a><br />
Pengaturan tarif dan perlindungan mulai diterapkan untuk menyelamatkan industri-industri tertentu dari kebangkrutan dan menyediakan lapangan kerja. Sebagian orang mulai bertanya-tanya apakah tujuan dari kegiatan produksi ekonomi adalah untuk memproduksi barang atau hanya untuk menyediakan lapangan kerja.</p>
<p>Seiring memburuknya keadaan, orang-orang mulai mengendalikan upah pegawai, kontrol biaya, dan segala macam kontrol-kontrol lainnya. Pemerintah pun berupaya mendapatkan lebih banyak uang lewat pajak penjualan, pajak penghasilan, dan pajak-pajak yang lain. Sebagian orang mulai memperhatikan bahwa sejak petani menaman padi sampai beras sampai ke tangan Ibu rumah tangga, ada lebih dari 50 jenis pajak yang sudah dibayarkan.</p>
<p>“Pakar” mulai muncul dan sebagian mulai terpilih untuk bekerja di pemerintahan, namun tahun demi tahun berlalu dan mereka tidak berhasil menyelesaikan permasalahan apapun, kecuali bahwa pajak perlu “disesuaikan” yang mana dalam kebanyakan kasus artinya harus dinaikkan.</p>
<p>Fabian mulai menuntut pembayaran atas bunga pinjamannya, dan semakin lama semakin banyak porsi pajak yang digunakan untuk membayar kepadanya.</p>
<p>Kemudian mulai muncul apa yang disebut dengan partai politik, orang-orang di masyarakat mulai berargumentasi partai mana yang orang-orangnya bisa menyelesaikan permasalahan mereka. Mereka mulai bertengkar mengenai personalitas, idealisme, lambang partai dan berbagai hal lainnya kecuali asal muasal permasalahan mereka.</p>
<p><a href="http://2.bp.blogspot.com/_7LQmI5UUQpg/SY-of-O9joI/AAAAAAAAARg/5nFOOFQSfD8/s1600-h/18-parties1x1.gif"><img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5300640553673526914" class="aligncenter" src="http://2.bp.blogspot.com/_7LQmI5UUQpg/SY-of-O9joI/AAAAAAAAARg/5nFOOFQSfD8/s200/18-parties1x1.gif" alt="" border="0" /></a><br />
Di kota tertentu, bunga pinjaman yang harus dibayar sudah melebihi total penerimaan pajak tahunan yang bisa dikumpulkan. Bunga-bunga baru pun mulai diperhitungkan atas bunga yang belum dibayarkan.</p>
<p>Secara perlahan-lahan kekayaan riil dari negara mulai berpindah tangan ke Fabian dan kawan-kawannya dan mereka memiliki kendali yang semakin lama semakin besar atas kehidupan masyarakat. Namun, pengendalian mereka belum selesai. Mereka menyadari bahwa situasi tidak akan benar-benar aman sebelum semua orang berhasil dikendalikan.</p>
<p>Kebanyakan orang yang menentang sistem ini bisa dibuat diam dengan tekanan finansial, ataupun dengan ejekan publik. Untuk melakukan ini Fabian dan kawan-kawan membeli kepemilikan dari semua koran, TV, dan radio dan menyeleksi orang-orang apa yang boleh bekerja di dalamnya. Kebanyakan dari orang-orang ini sebenarnya benar-benar ingin memperbaiki keadaan, tetapi mereka tidak menyadari bagaimana mereka sedang diperalat. Solusi mereka selalu terarah kepada akibat dari masalah, bukan penyebab dari masalah.</p>
<p><a href="http://2.bp.blogspot.com/_7LQmI5UUQpg/SY-ofyuhgpI/AAAAAAAAARo/FzqAwv9cD_Q/s1600-h/19-banker1x1.gif"><img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5300640550584681106" class="aligncenter" src="http://2.bp.blogspot.com/_7LQmI5UUQpg/SY-ofyuhgpI/AAAAAAAAARo/FzqAwv9cD_Q/s200/19-banker1x1.gif" alt="" border="0" /></a><br />
Ada bermacam-macam surat kabar, satu untuk sayap kanan, satu untuk sayap kiri, satu untuk kelas pekerja, satu untuk kaum pengusaha, dan seterusnya. Tidak masalah koran yang mana yang Anda percayai, selama Anda tidak memikirkan penyebab awal dari permasalahan.</p>
<p>Rencana Fabian sudah hampir selesai, seluruh negara saat ini berhutang kepadanya. Melalui pendidikan dan media, dia mengendalikan pikiran masyarakat. Orang-orang hanya akan berpikir sejauh yang dia inginkan.</p>
<p>Setelah seseorang memiliki jauh lebih banyak uang dari yang sanggup dia gunakan, apa lagi yang akan menyenangkan hatinya? Bagi mereka yang memiliki mentalitas menguasai, jawabannya adalah kekuasaan, kekuasaan mutlak atas kemanusiaan.</p>
<p>Kebanyakan tukang emas akhirnya mengarah ke sana. Mereka mengetahui rasanya kaya raya, dan perasaan itu tidak lagi cukup untuk memuaskan mereka. Mereka membutuhkan tantangan dan kesenangan baru, dan kekuasaan atas massa adalah permainan berikut.</p>
<p>Mereka percaya mereka adalah kelompok superior atas lainnya. “Adalah hak dan kewajiban kami untuk mengatur. Masyarakat tidak tahu apa yang baik untuk mereka. Mereka perlu dikendalikan dan diatur. Mengatur adalah takdir dari kami.”</p>
<p>Di seluruh penjuru negeri, Fabian dan kawan-kawan memiliki banyak perusahaan pembiayaan. Memang, masing-masing perusahaan dimiliki secara pribadi. Secara teori mereka adalah saingan masing-masing. Namun, kenyataan yang sebenarnya adalah mereka semua saling bekerja sama dengan seksama. Setelah berhasil membujuk pemerintah, mereka mendirikan sebuah institusi yang mereka sebut dengan Bank Sentral. Mereka bahkan tidak perlu mengeluarkan modal untuk mendirikannya, mereka menciptakan kredit dengan menggunakan uang deposit masyarakat.</p>
<p><a href="http://2.bp.blogspot.com/_7LQmI5UUQpg/SY-qXIfocWI/AAAAAAAAASA/P78USoijsXs/s1600-h/12-banks1x1.gif"><img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5300642600832233826" class="aligncenter" src="http://2.bp.blogspot.com/_7LQmI5UUQpg/SY-qXIfocWI/AAAAAAAAASA/P78USoijsXs/s200/12-banks1x1.gif" alt="" border="0" /></a>Institusi ini tampak sebagai badan yang meregulasikan suplai uang dan merupakan bagian dari pemerintah. Tetapi anehnya, tidak ada wakil pemerintah yang diizinkan untuk duduk di badan Direktur di dalamnya.</p>
<p>Pemerintah tidak lagi meminjam secara langsung dari Fabian, pemerintah sekarang meminjam dengan cara menerbitkan surat hutang kepada Bank Sentral. Jaminan dari surat hutang ini adalah penerimaan pajak tahun berikut. Ini adalah bagian dari rencana Fabian, menyingkirkan kecurigaan orang kepadanya dengan membuat kesan seolah-olah suplai uang dikendalikan oleh pemerintah. Kenyataannya, di balik layar, dialah yang memegang kendali.</p>
<p>Secara tidak langsung, dialah yang mengendalikan pemerintah. Tidak penting siapa yang terpilih sebagai wakil rakyat di pemerintahan. Fabianlah yang memegang kendali atas uang, darah dan nyawa dari perdagangan sebuah bangsa.</p>
<p>Pemerintah selalu mendapatkan uang yang mereka inginkan, tetapi bunga selalu dikenakan pada setiap pinjaman. Semakin lama semakin banyak orang yang memerlukan bantuan sosial pemerintah, dan tak lama kemudian pemerintah sadar bahwa mereka kesulitan bahkan hanya untuk membayar bunga saja, apalagi hutang pokok.</p>
<p>Sebagian orang mulai bertanya, “Uang adalah sistem yang diciptakan manusia. Bukankah seharusnya sistem ini bisa diubah agar uang menjadi pelayan, bukan sebaliknya?” Namun semakin lama jumlah orang-orang ini semakin sedikit dan suara mereka hilang di tengah sebuah masyarakat yang tidak lagi peduli.</p>
<p>Pemerintahan berubah, partai yang berkuasa juga bisa berubah, namun kebijakan utama tidak. Tidak masalah siapa yang menjadi pemerintah, rencana besar Fabian semakin lama semakin mendekati kenyataan dari tahun ke tahun. Kebijakan pemerintah tidak lagi ada artinya. Rakyat mulai dikenai pajak mendekati ambang batas mereka, mereka tidak lagi sanggup membayar. Waktunya sudah hampir matang bagi Fabian untuk aksi finalnya.</p>
<p>10% dari suplai uang masih dalam bentuk uang kertas dan koin. Ini harus dimusnahkan sama sekali tetapi tidak boleh menimbulkan kecurigaan publik. Selama masyarakat masih memiliki uang (kertas maupun koin), mereka bebas untuk membeli dan menjual sesuka hati mereka, mereka masih memiliki sedikit kontrol atas kehidupan mereka.</p>
<p><a href="http://1.bp.blogspot.com/_7LQmI5UUQpg/SY-ogO-3uPI/AAAAAAAAARw/aP4Kza_IX5A/s1600-h/20-banknote1x1.gif"><img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5300640558169438450" class="aligncenter" src="http://1.bp.blogspot.com/_7LQmI5UUQpg/SY-ogO-3uPI/AAAAAAAAARw/aP4Kza_IX5A/s200/20-banknote1x1.gif" alt="" border="0" /></a>Tidaklah selalu nyaman untuk membawa uang tunai dan koin. Cek juga tidak bisa diterima bila sudah keluar dari sebuah komunitas tertentu. Oleh karena itu, sebuah sistem yang lebih baru perlu dipikirkan. Sekali lagi Fabian memiliki jawabannya. Organisasinya akan menerbitkan sebuah kartu plastik yang memiliki data pemegangnya: nama, foto, dan nomor penduduk.</p>
<p><a href="http://3.bp.blogspot.com/_7LQmI5UUQpg/SY-ogJCpESI/AAAAAAAAAR4/Kx6essd8wGQ/s1600-h/21-card1x1.gif"><img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5300640556574642466" class="aligncenter" src="http://3.bp.blogspot.com/_7LQmI5UUQpg/SY-ogJCpESI/AAAAAAAAAR4/Kx6essd8wGQ/s200/21-card1x1.gif" alt="" border="0" /></a><br />
Saat kartu ini akan digunakan, pedagang akan menyambungkan komputernya untuk mengecek kredit dari kartu tersebut. Seandainya tidak ada masalah, pemegang kartu ini boleh membeli barang seharga limit tertentu.</p>
<p>Awalnya orang akan diizinkan untuk berhutang sedikit. Seandainya uang ini dibayarkan dalam sebulan, maka tidak ada bunga yang perlu dibayarkan. Ini tidak masalah untuk kelas pegawai, tetapi bagaimana ini bisa berlaku juga untuk para pedagang dan pengusaha? Mereka harus mempersiapkan mesin-mesin, kemudian menjalankan proses manufaktur dari barang yang akan mereka produksi, membayar gaji pegawai, menjual barang dagangannya dan membayar kembali hutang mereka. Bila melewati satu bulan, mereka akan dikenai bunga 1.5% per bulan dari nilai hutang mereka. Total 18% setahun.</p>
<p>Pengusaha tidak memiliki jalan lain selain menambahkan 18% ke dalam nilai jual dagangan mereka. Namun kelebihan uang / kredit (18%) ini tidak pernah dipinjamkan kepada siapapun. Di seluruh negeri, para pengusaha disuruh menjalani misi mustahil untuk membayar kembali $118 untuk setiap $100 yang mereka pinjam, tetapi kelebihan $18 ini tidak pernah diedarkan oleh Bank sejak awal.</p>
<p>Namun Fabian dan kawan-kawan menikmati status yang semakin penting di masyarakat. Mereka menjadi orang-orang penting yang terhormat. Pengumuman dan pendapat mereka tentang finansial dan ekonomi bahkan bisa disetarakan dengan sabda suci spiritual.</p>
<p>Di bawah beban bunga yang terus bertambah, banyak perusahaan kecil menengah yang mulai bangkrut. Lisensi-lisensi khusus diperlukan untuk menjalankan operasi-operasi tertentu, jadi perusahaan-perusahaan yang tersisa memiliki semakin banyak hambatan dalam berusaha. Fabian memiliki dan mengendalikan semua perusahaan besar beserta ratusan anak perusahaan mereka. Perusahaan-perusahaan itu tampak seperti saingan satu sama lain, tetapi dialah yang ada di balik semua perusahaan itu. Para kompetitor perlahan-lahan dipaksa gulung tikar. Tukang kayu, konstruksi, listrik dan industri-industri kecil menengah menjalani takdir yang sama, dibeli oleh perusahaan raksasa milik Fabian yang memiliki proteksi dan perlakuan khusus dari pemerintah.</p>
<p>Fabian menginkan kartu plastik ini untuk menggantikan semua uang kertas dan koin. Rencananya adalah saat semua uang kertas dan koin ditarik, hanya bisnis yang menggunakan kartu komputerlah yang akan beroperasi.</p>
<p>Dia mengetahui bahwa suatu ketika orang-orang akan kehilangan kartu mereka dan tidak bisa membeli ataupun menjual sebelum identitas mereka bisa dibuktikan. Dia ingin agar dibuatkan sebuah hukum : sebuah hukum yang mengharuskan semua orang untuk memiliki sebuah nomor identifikasi yang ditato di dalam tangan mereka. Nomor ini cuma akan terlihat dengan sinar tertentu, yang dihubungkan dengan komputer. Setiap komputer akan dihubungkan dengan sebuah komputer pusat yang memungkinan Fabian mengetahui segala transaksi mengenai semua orang…</p>
<div>* * *</div>
<p>Terminologi yang digunakan saat ini untuk melukiskan sistem finansial di atas adalah “Fractional Reserve Banking.” (Cadangan Terbatas Perbankan).</p>
<p>Cerita yang Anda baca di atas, tentu saja, adalah fiksi.</p>
<p>Namun, bila Anda merasa terganggu karena cerita ini sangat mirip dengan kenyataan hidup kita, dan Anda ingin mengetahui siapa Fabian ini sebenarnya dalam kehidupan nyata, titik mulai yang baik untuk Anda pelajari adalah para tukang emas di Inggris pada abad 16 dan 17 Masehi.</p>
<p>Sebagai contoh, Bank of England didirikan pada tahun 1694. Raja William saat itu berada dalam kesulitan finansial yang besar karena perang melawan Perancis. Para tukang emas kemudian “meminjamkan” 1,2 juta pound (nilai yang amat besar pada zaman itu) dengan syarat tertentu.</p>
<p>Bunga yang dikenakan adalah 8%. Jangan lupa bahwa di Magna Carta sebenarnya dikatakan bahwa mengenakan dan mengumpulkan bunga (riba) atas pinjaman akan dikenakan hukuman mati. Raja William dipaksa memberikan izin kartel resmi kepada para tukang emas, sebuah hak untuk menciptakan kredit.</p>
<p>Sebelum itu, operasi untuk menerbitkan lebih banyak kwitansi emas daripada emas yang sebenarnya dimiliki adalah tindakan ilegal. Namun sejak izin kartel itu keluar, tindakan itu menjadi legal.</p>
<p>Di tahun 1694, W.Petterson mendapatkan hak kartel atas Bank of England.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>sumber  : <a title="Pustaka Pohon Bodhi" href="http://pohonbodhi.blogspot.com/2008/11/saya-menginginkan-seluruh-dunia-plus-5.html" target="_blank">Pustaka Pohon Bodhi</a></p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://loommy.com/2011/05/repost-saya-menginginkan-seluruh-dunia-plus-5/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cinta dan Tanggungjawab Ayahanda</title>
		<link>http://loommy.com/2009/01/cinta-dan-tanggungjawab-ayahanda/</link>
		<comments>http://loommy.com/2009/01/cinta-dan-tanggungjawab-ayahanda/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Jan 2009 05:19:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>loommy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspiration]]></category>
		<category><![CDATA[Just Written It!]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Urban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://loommy.com/?p=145</guid>
		<description><![CDATA[  Terkadang dalam belajar berteman dan mengenal lingkungan, seorang anak akan mengenal dan membandingkan apa yang dimiliki dengan orang lain. Membandingkan ayahnya yang &#8220;hanya&#8221; seorang nelayan, petani, atau buruh dengan ayah-ayah lain yang &#8220;mungkin&#8221; pejabat tinggi di suatu perusahaan/instansi, dst. Sesaat si anak akan belajar merasakan kecemburuan materi. Sesaat pula si anak berpikir seandainya oh<a class="rmore" href="http://loommy.com/2009/01/cinta-dan-tanggungjawab-ayahanda/">&#160;&#160; Read More ...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> </p>
<div class="wp-caption alignnone" style="width: 460px"><img title="son and father - responsibility" src="http://foto.detik.com/images/content/2009/01/12/157/digendong03.jpg" alt="unlimited love" width="450" height="608" /><p class="wp-caption-text">unlimited love</p></div>
<p>Terkadang dalam belajar berteman dan mengenal lingkungan, seorang anak akan mengenal dan membandingkan apa yang dimiliki dengan orang lain. Membandingkan ayahnya yang &#8220;hanya&#8221; seorang nelayan, petani, atau buruh dengan ayah-ayah lain yang &#8220;mungkin&#8221; pejabat tinggi di suatu perusahaan/instansi, dst.</p>
<p>Sesaat si anak akan belajar merasakan kecemburuan materi. Sesaat pula si anak berpikir seandainya oh seandainya, ia lahir dari ayah yang lain. Namun, di saat itu si anak akan belajar mengenal sendiri ayahnya adalah seorang yang hebat. Seorang yang bersahaja, jujur, namun selalu mempunyai kasih sayang dan tanggung jawab yang tidak terbatas.</p>
<p>Semoga Allah selalu memberikan hidayah dan ampunan kepada semua orang tua kita..amiin.. <img src='http://loommy.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://loommy.com/2009/01/cinta-dan-tanggungjawab-ayahanda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Al &#8211; Furqaan:74</title>
		<link>http://loommy.com/2008/06/al-furqaan74/</link>
		<comments>http://loommy.com/2008/06/al-furqaan74/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jun 2008 03:49:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>loommy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://loommy.com/?p=116</guid>
		<description><![CDATA[وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا Artinya : Dan orang-orang yang berkata: &#8220;Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا</h2>
<p>Artinya :</p>
<p>Dan orang-orang yang berkata: &#8220;Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://loommy.com/2008/06/al-furqaan74/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Al-Baqarah:286</title>
		<link>http://loommy.com/2008/06/al-baqarah286/</link>
		<comments>http://loommy.com/2008/06/al-baqarah286/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Jun 2008 04:42:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>loommy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://loommy.com/?p=114</guid>
		<description><![CDATA[لاَ يُكَلِّفُ اللّهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلا تُحَمِّلْنَا مَا لاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِين artinya : Allah tidak membebani seseorang<a class="rmore" href="http://loommy.com/2008/06/al-baqarah286/">&#160;&#160; Read More ...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>لاَ يُكَلِّفُ اللّهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلا</p>
<p>تُحَمِّلْنَا مَا لاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِين</p>
<p>artinya :<br />
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebaikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdo&#8217;a): &#8220;Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma&#8217;aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir&#8221;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://loommy.com/2008/06/al-baqarah286/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>buat kamu yang pengen lulus</title>
		<link>http://loommy.com/2008/05/gaudemus-igitur/</link>
		<comments>http://loommy.com/2008/05/gaudemus-igitur/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 May 2008 10:20:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Academic]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Gaudeamus Igitur]]></category>
		<category><![CDATA[lagu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://loommy.com/?p=111</guid>
		<description><![CDATA[tiap hari kerjaan saya adalah dengerin lagu De Brevitate Vitae (on the Shortness of Life) alias Gaudeamus Igitur &#8211; lebih dikenal dengan judul ini karena bait pertamanya dinyanyikan demikian &#8211; maksudnya sih, biar terus ada semangat di semester penghujung ini dan segera lulus amin amin amin (mohon para pembaca berkenan meng-amin-i ya..maturnuwun.) Lagu ini menjadi lagu<a class="rmore" href="http://loommy.com/2008/05/gaudemus-igitur/">&#160;&#160; Read More ...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>tiap hari kerjaan saya adalah dengerin lagu De Brevitate Vitae (on the Shortness of Life) alias Gaudeamus Igitur &#8211; lebih dikenal dengan judul ini karena bait pertamanya dinyanyikan demikian &#8211; maksudnya sih, biar terus ada semangat di semester penghujung ini dan segera lulus amin amin amin (mohon para pembaca berkenan meng-amin-i ya..maturnuwun.) <img src='http://loommy.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Lagu ini menjadi lagu sakral dan penting di kalangan akademisi Eropa dari jaman dahoeloe kala, walopun (katanya) makna lagunya juga ga&#8217; sakral-sakral banget..yaah apapun itu, yang bikin sakral buat saya adalah buat dengerin lagu ini dinyanyikan sama paduan suara kampus, kita harus melewati ribuan ujian mulai dari SD sampai memakai Toga dan digeser talinya sama pak Dekan yang tangannya mungkin diusulkan untuk diganti tangan robot saja&#8230;capek bos! <img src='http://loommy.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Ini dia syair lagu Gaudeamu Igitur..klo ada yang pengen lagunya, silaken berikan alamat imelnya..</p>
<p> </p>
<table border="1" frame="hsides">
<tbody>
<tr>
<th>Latin</th>
<th>English</th>
</tr>
<tr>
<td>Gaudeamus igitur  </p>
<p>Juvenes dum sumus.</p>
<p>Post jucundam juventutem</p>
<p>Post molestam senectutem</p>
<p>Nos habebit humus.</td>
<td><em>Let us rejoice therefore</em>  </p>
<p><em>While we are young.</em></p>
<p><em>After a pleasant youth</em></p>
<p><em>After the troubles of old age</em></p>
<p><em>The earth will have us.</em></td>
</tr>
<tr>
<td>Ubi sunt qui ante nos  </p>
<p>In mundo fuere?</p>
<p>Vadite ad superos</p>
<p>Transite in inferos</p>
<p>Hos si vis videre.</td>
<td><em>Where are they</em>  </p>
<p><em>Who were in the world before us?</em></p>
<p><em>Go up to heaven</em></p>
<p><em>Or cross over into hell</em></p>
<p><em>If you wish to see them.</em></td>
</tr>
<tr>
<td>Vita nostra brevis est  </p>
<p>Brevi finietur.</p>
<p>Venit mors velociter</p>
<p>Rapit nos atrociter</p>
<p>Nemini parcetur.</td>
<td><em>Our life is brief</em>  </p>
<p><em>It will be finished all too soon.</em></p>
<p><em>Death comes quickly</em></p>
<p><em>We are cruelly snatched away.</em></p>
<p><em>No one is spared.</em></td>
</tr>
<tr>
<td>Vivat academia!  </p>
<p>Vivant professores!</p>
<p>Vivat membrum quodlibet</p>
<p>Vivant membra quaelibet</p>
<p>Semper sint in flore.</td>
<td><em>Long live the academy!</em>  </p>
<p><em>Long live the teachers!</em></p>
<p><em>Long live each student!</em></p>
<p><em>Long live all the students!</em></p>
<p><em>May they always flourish!</em></td>
</tr>
<tr>
<td>Vivant omnes virgines  </p>
<p>Faciles, formosae.</p>
<p>Vivant et mulieres</p>
<p>Tenerae amabiles</p>
<p>Bonae laboriosae.</td>
<td><em>Long live the virgins</em>  </p>
<p><em>Easy and beautiful!</em></p>
<p><em>Long live mature women also,</em></p>
<p><em>Tender and lovable</em></p>
<p><em>And full of good labor.</em></td>
</tr>
<tr>
<td>Vivant et res publica  </p>
<p>et qui illam regit.</p>
<p>Vivat nostra civitas,</p>
<p>Maecenatum caritas</p>
<p>Quae nos hic protegit.</td>
<td><em>Long live the state as well</em>  </p>
<p><em>And he who rules it!</em></p>
<p><em>Long live our city</em></p>
<p><em>[And] the charity of benefactors</em></p>
<p><em>Which protects us here!</em></td>
</tr>
<tr>
<td>Pereat tristitia,  </p>
<p>Pereant osores.</p>
<p>Pereat diabolus,</p>
<p>Quivis antiburschius</p>
<p>Atque irrisores.</td>
<td><em>Let sadness perish!</em>  </p>
<p><em>Let haters perish!</em></p>
<p><em>Let the devil perish!</em></p>
<p><em>Let whoever is anti-student</em></p>
<p><em>Who laughs at us, perish!</em></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p> </p>
<p> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://loommy.com/2008/05/gaudemus-igitur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>sebuah cerita&#8230;</title>
		<link>http://loommy.com/2007/11/sebuah-cerita/</link>
		<comments>http://loommy.com/2007/11/sebuah-cerita/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Nov 2007 12:44:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>loommy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Urban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://loommy.wordpress.com/2007/11/27/sebuah-cerita/</guid>
		<description><![CDATA[&#160; CINTA LAKI-LAKI BIASA (True Story) [Dari sebuah milis] Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman<a class="rmore" href="http://loommy.com/2007/11/sebuah-cerita/">&#160;&#160; Read More ...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><img src="http://img207.imageshack.us/img207/6673/trueloveyd2.jpg" height="364" width="452" /></p>
<p style="text-align:left;">&nbsp;</p>
<h1><span class="Apple-style-span" style="font-family:Verdana;font-size:12px;line-height:18px;">CINTA LAKI-LAKI BIASA </span></h1>
<p style="text-align:left;"><span class="Apple-style-span" style="font-family:Verdana;font-size:12px;line-height:18px;"><em>(True Story) [Dari sebuah milis]</em> </span></p>
<p style="text-align:left;"><span class="Apple-style-span" style="font-family:Verdana;font-size:12px;line-height:18px;">    Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya. Kenapa? Tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan. <span id="more-105"></span></span></p>
<p style="text-align:left;"><span class="Apple-style-span" style="font-family:Verdana;font-size:12px;line-height:18px;">    Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi. Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu. Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yg barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana . Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata! Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap. Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka. </span></p>
<p style="text-align:left;"><span class="Apple-style-span" style="font-family:Verdana;font-size:12px;line-height:18px;"><span style="white-space:pre;" class="Apple-tab-span">	</span>Kamu pasti bercanda! Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda. Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania! Nania serius! tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya. Tidak ada yang lucu, suara Papa tegas, Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik! Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan. </span></p>
<p style="text-align:left;"><span class="Apple-style-span" style="font-family:Verdana;font-size:12px;line-height:18px;"><span style="white-space:pre;" class="Apple-tab-span">	</span>Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan ? Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh? Nania terkesima. Kenapa? Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik. Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus! Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur. Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau! Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata &#8216;kenapa&#8217; yang barusan Nania lontarkan. </span></p>
<p style="text-align:left;"><span class="Apple-style-span" style="font-family:Verdana;font-size:12px;line-height:18px;"><span style="white-space:pre;" class="Apple-tab-span">	</span>Nania Cuma mau Rafli, sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak. Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah. Tapi kenapa? Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yg amat sangat biasa. Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya. Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania! Cukup! Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini? Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak &#8216;luar biasa&#8217;. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia. </span></p>
<p style="text-align:center;"><span class="Apple-style-span" style="font-family:Verdana;font-size:12px;line-height:18px;">Mereka akhirnya menikah. </span></p>
<p style="text-align:center;"><span class="Apple-style-span" style="font-family:Verdana;font-size:12px;line-height:18px;">*** </span></p>
<p style="text-align:center;"><span class="Apple-style-span" style="font-family:Verdana;font-size:12px;line-height:18px;">Setahun pernikahan. </span></p>
<p style="text-align:left;"><span class="Apple-style-span" style="font-family:Verdana;font-size:12px;line-height:18px;">    Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka. Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia. Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania. Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan. Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya. </span></p>
<p style="text-align:left;"><span class="Apple-style-span" style="font-family:Verdana;font-size:12px;line-height:18px;"><span style="white-space:pre;" class="Apple-tab-span">	</span>Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu! Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar! Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses! Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli. Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen. Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak! Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan ? Rafli juga pintar! Tidak sepintarmu, Nania. Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan. Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu. Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma. Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu. Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak. Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan.</span></p>
<p style="text-align:left;"><span class="Apple-style-span" style="font-family:Verdana;font-size:12px;line-height:18px;"><span style="white-space:pre;" class="Apple-tab-span">	</span>Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang. Tak apa, kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri. Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang. Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik.. Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya? Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah. Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia! Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania. Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting. Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak! Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama. Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik. Cantik ya? dan kaya! Tak imbang! Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari. Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.</span></p>
<p style="text-align:center;"><span class="Apple-style-span" style="font-family:Verdana;font-size:12px;line-height:18px;"> *** </span></p>
<p style="text-align:left;"><span class="Apple-style-span" style="font-family:Verdana;font-size:12px;line-height:18px;">    Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya. Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan! Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil. Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang. Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali. Baru pembukaan satu. Belum ada perubahan, Bu. Sudah bertambah sedikit, kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan. Sekarang pembukaan satu lebih sedikit. Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi. </span></p>
<p style="text-align:left;"><span class="Apple-style-span" style="font-family:Verdana;font-size:12px;line-height:18px;"><span style="white-space:pre;" class="Apple-tab-span">	</span>Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset. Masih pembukaan dua, Pak! Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya. Bang? Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan. Dokter? Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar. Mungkin? Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu? Bagaimana jika terlambat? Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal. Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri. </span></p>
<p style="text-align:left;"><span class="Apple-style-span" style="font-family:Verdana;font-size:12px;line-height:18px;"><span style="white-space:pre;" class="Apple-tab-span">	</span>Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir. Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat. Pendarahan hebat! Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah! Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis. Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka. Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker. Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania. </span></p>
<p style="text-align:left;" align="center">* * *</p>
<p style="text-align:left;"><span class="Apple-style-span" style="font-family:Verdana;font-size:12px;line-height:18px;">    Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang. Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli. Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan. Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra.. Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya. </span></p>
<p style="text-align:left;"><span class="Apple-style-span" style="font-family:Verdana;font-size:12px;line-height:18px;"><span style="white-space:pre;" class="Apple-tab-span">	</span>Nania, bangun, Cinta? Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik. Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik, Nania, bangun, Cinta? Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli. Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. </span></p>
<p style="text-align:left;"><span class="Apple-style-span" style="font-family:Verdana;font-size:12px;line-height:18px;"><span style="white-space:pre;" class="Apple-tab-span">	</span>Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan. Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama. Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya. Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh. Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi. </span></p>
<p style="text-align:center;"> * * *</p>
<p style="text-align:left;"><span class="Apple-style-span" style="font-family:Verdana;font-size:12px;line-height:18px;"><span style="white-space:pre;" class="Apple-tab-span">	</span>Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta. Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh? Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli. Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. </span></p>
<p style="text-align:left;"><span class="Apple-style-span" style="font-family:Verdana;font-size:12px;line-height:18px;">    Begitu bertahun-tahun. Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat. Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik. Baik banget suaminya! Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua! Nania beruntung! Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya. Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam! Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama. Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa? Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. </span></p>
<p style="text-align:left;"><span class="Apple-style-span" style="font-family:Verdana;font-size:12px;line-height:18px;">    Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi? Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka.. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan. Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya. </span></p>
<p style="text-align:left;"><span class="Apple-style-span" style="font-family:Verdana;font-size:12px;line-height:18px;">    Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania. </span></p>
<blockquote>
<p style="text-align:left;"><em><span class="Apple-style-span" style="font-family:Verdana;font-size:12px;line-height:18px;">Seperti yg diceritakan oleh seorang sahabat..</span></em><br class="webkit-block-placeholder" /></p>
</blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://loommy.com/2007/11/sebuah-cerita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Why do we read Quraan, even if we can’t understand a single Arabic word????</title>
		<link>http://loommy.com/2007/11/why-do-we-read-quraan-even-if-we-can%e2%80%99t-understand-a-single-arabic-word/</link>
		<comments>http://loommy.com/2007/11/why-do-we-read-quraan-even-if-we-can%e2%80%99t-understand-a-single-arabic-word/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Nov 2007 06:45:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>loommy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspiration]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://loommy.wordpress.com/2007/11/03/why-do-we-read-quraan-even-if-we-can%e2%80%99t-understand-a-single-arabic-word/</guid>
		<description><![CDATA[&#160; An old American Muslim lived on a farm in the mountains of eastern Kentucky with his young grandson. Each morning Grandpa wakeup early sitting at the kitchen table reading his Quran. His grandson wanted to be just like him and tried to imitate him in every way he could. One day the grandson asked,<a class="rmore" href="http://loommy.com/2007/11/why-do-we-read-quraan-even-if-we-can%e2%80%99t-understand-a-single-arabic-word/">&#160;&#160; Read More ...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center">&nbsp;</p>
<p style="text-align:center;"><img src="http://fajr.files.wordpress.com/2007/04/quran12.jpg" alt="al-quran" border="2" height="191" hspace="2" vspace="2" width="286" /></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:'Comic Sans MS';">An old American Muslim lived on a farm in the mountains of eastern Kentucky with his young grandson. Each morning Grandpa wakeup early sitting at the kitchen table reading his Quran. His grandson wanted to be just like him and tried to imitate him in every way he could. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:'Comic Sans MS';">    One day the grandson asked, “Grandpa! I try to read the Qur’an just like you but I don’t understand it, and what I do understand I forget as soon as I close the book. What good does reading the Qur’an do?” The Grandfather quietly turned from putting coal in the stove and replied, “Take this coal basket down to the river and bring me back a basket of water.” The boy did as he was told, but all the water leaked out before he got back to the house. The grandfather laughed and said, “You’ll have to move a little faster next time,” and sent him back to the river with the basket to try again. This time the boy ran faster, but again the bas ket was empty before he returned home. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:'Comic Sans MS';">    Out of breath, he told his grandfather that it was impossible to carry water in a basket, and he went to get a bucket instead. The old man said, “I don’t want a bucket of water; I want a basket of water. You’re just not trying hard enough,” and he went out the door to watch the boy try again. At this point, the boy knew it was impossible, but he wanted to show his grandfather that even if he ran as fast as he could, the water would Leak out before he got back to the house. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:'Comic Sans MS';">    The boy again dipped the basket into river and ran hard, but when he reached his grandfather the basket was again empty. Out of breathe, he said, “See Grandpa, it’s useless!” “So you think it is useless?” The old man said, “Look at the basket.” The boy looked at the basket and for the first time realized that the basket was different. It had been transformed from a dirty old coal basket and was now clean, inside and out. “Son, that’s what happens when you read the Qur’an. You might not understand or remember everything, but when you read it, you will be changed, inside and out. That is the work of Allah in our lives </span></p>
<p><em>taken from <a href="http://ayisan.wordpress.com/2007/08/08/why-do-we-read-quraan-even-if-we-cant-understand-a-single-arabic-word/">here</a><br />
</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://loommy.com/2007/11/why-do-we-read-quraan-even-if-we-can%e2%80%99t-understand-a-single-arabic-word/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>mereka bilang saya&#8230;</title>
		<link>http://loommy.com/2007/10/mereka-bilang-saya/</link>
		<comments>http://loommy.com/2007/10/mereka-bilang-saya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Oct 2007 10:09:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>loommy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Have Fun]]></category>
		<category><![CDATA[Human]]></category>
		<category><![CDATA[Inspiration]]></category>
		<category><![CDATA[Just Written It!]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Social]]></category>
		<category><![CDATA[Urban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://loommy.wordpress.com/2007/10/24/mereka-bilang-saya/</guid>
		<description><![CDATA[awalnya saya mendapat sms dari Embun (baca:didik-pekok), maklumlah karena sama XL Bebas jadi sering buang-buang pulsa gratis hehe. adapun isi smsnya sebagai berikut : Gambrkn Q dgn 1 kata.Hanya 1 kata!Kirim jwbnnya pdku lalu krim psan ini k 10 tmn &#38; lihy jwbn2 aneh &#38; mengagumkn ttg mu.Blz ya!Krn ini menyenangkan.! Kemudian saya kirimkan ke<a class="rmore" href="http://loommy.com/2007/10/mereka-bilang-saya/">&#160;&#160; Read More ...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><img src="http://www.sciencebase.com/images/anandamide-cannabinoid.jpg" alt="mereka bilang..." border="2" height="243" hspace="2" vspace="2" width="374" /></p>
<p>awalnya saya mendapat sms dari Embun (baca:didik-pekok), maklumlah karena sama XL Bebas jadi sering buang-buang pulsa gratis hehe. adapun isi smsnya sebagai berikut :</p>
<address> </address>
<blockquote><address>Gambrkn Q dgn 1 kata.Hanya 1 kata!Kirim jwbnnya pdku lalu krim psan ini k 10 tmn &amp; lihy jwbn2 aneh &amp; mengagumkn ttg mu.Blz ya!Krn ini menyenangkan.!</address>
</blockquote>
<p>Kemudian saya kirimkan ke beberapa temen2 saya (tentunya sesama XL, gratis bos!!) dan berikut ini jawabannya .. :</p>
<p><font color="#3366ff">yossi    : unik</font></p>
<p><font color="#3366ff">imam    : moh ahh..eman2 pulsaQ</font></p>
<p><font color="#3366ff">hakim    : singo</font></p>
<p><span id="more-75"></span><font color="#3366ff">ully    : jutex!</font></p>
<p><font color="#3366ff">lielie    : wagu</font></p>
<p><font color="#3366ff">biba    : siapa</font></p>
<p><font color="#3366ff">gandoz    : he?</font></p>
<p><font color="#3366ff">aad    : lanang </font></p>
<p><font color="#3366ff">hadi kkn    : kroco</font></p>
<p><font color="#3366ff">eko kkn    : AnH</font></p>
<p><font color="#3366ff">norma kkn    : 1kata bwt km:unr0mantic,haha</font></p>
<p><font color="#3366ff"> ao    : Temen</font></p>
<p><font color="#3366ff">ervi noker    : Misterius</font></p>
<p><font color="#3366ff">nina bondhan    :For dek Na, kak Romi is lovely. (&#8212;&gt;semoga bukan fitnah wakakaka&#8230;)</font></p>
<p><font color="#3366ff">gogon    : Aneh! </font></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://loommy.com/2007/10/mereka-bilang-saya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Indonesia yang Miskin &#8216;engineer&#8217;</title>
		<link>http://loommy.com/2007/09/indonesia-yang-miskin-engineer/</link>
		<comments>http://loommy.com/2007/09/indonesia-yang-miskin-engineer/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Sep 2007 04:56:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>loommy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Urban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://loommy.wordpress.com/2007/09/27/indonesia-yang-miskin-engineer/</guid>
		<description><![CDATA[Daya serap tenaga kerja untuk setiap 1 persen pertumbuhan ekonomi, merosot dari 500 ribu tenaga kerja menjadi sekitar 240 ribu tenaga kerja. Tidak aneh jika jumlah pengangguran terbuka mengalami lonjakan dari 9.1 juta orang pada 2002 menjadi 10.5 juta orang pada Februari 2007. (http://www.suaramerdeka.com/cybernews/harian/0605/19/nas5.htm) =========================================================== Yaps, negara ini membutuhkan banyak sekali engineer untuk pembangunan. Kita<a class="rmore" href="http://loommy.com/2007/09/indonesia-yang-miskin-engineer/">&#160;&#160; Read More ...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><img src="http://www.cartoonstock.com/newscartoons/cartoonists/cgo/lowres/cgon155l.jpg" alt="nganggur dab.." border="3" height="303" hspace="1" vspace="2" width="400" /></p>
<p>Daya serap tenaga kerja untuk setiap 1 persen pertumbuhan ekonomi, merosot dari 500 ribu tenaga kerja menjadi sekitar 240 ribu tenaga kerja. Tidak aneh jika jumlah pengangguran terbuka mengalami lonjakan dari 9.1 juta orang pada 2002 menjadi 10.5 juta orang pada Februari 2007.  <em>(http://www.suaramerdeka.com/cybernews/harian/0605/19/nas5.htm)</em><br />
===========================================================</p>
<p>Yaps, negara ini membutuhkan banyak sekali engineer untuk pembangunan. Kita melihat fenomena saat ini dimana engineering di bidang telekomunikasi begitu diperebutkan oleh vendor dan operator telco. Bagaimana tidak, jika pasar telco di Indonesia ditargetkan mencapai separuh dari populasi penduduk alias 100juta pengguna telepon? Bandingkan dengan Hongkong yang &#8216;hanya&#8217; mempunyai 8 juta pengguna telepon (ya maklum laah, warganya juga berapa..). Wajar saja potensi pasar Indonesia sangat menjanjikan bagi stakeholder telco tersebut.</p>
<p>Di bidang lain misalnya, <em>drilling engineer</em> (minyak bumi &amp; gas) terbaik Indonesia banyak yang bekerja pada perusahaan asing. Dan perusahaan tersebut menggaji engineer indo dari hasil kerjasama dengan pemerintah Indo yang diwakili oleh Pertamina. Ya, tentu saja menggaji engineer indo tidaklah seberapa dibanding keuntungan yang dikeruk dari ladang Indonesia. Bandingkan dengan Pertamina versi Malaysia (Petronas) yang mempertahankan engineer2-nya dengan gaji dan fasilitas yang tinggi, agar mereka tidak masuk ke perusahaan asing. Dan akhirnya terwujudlah ikon Malaysia, Petronas Twin Tower.</p>
<p>Di bidang yang saya tekuni saat ini yaitu IT, para engineer juga tak bisa banyak bergerak karena pemerintah &#8216;ngga&#8217; mau menciptakan peluang kerja bagi para sarjana. Lihat saja, contoh terdekat di sekolah tingkat menengah (misalnya), sarana dan prasarana IT berikut pengembangannya dilakukan oleh guru. Konsekuensinya adalah, guru tidak dapat fokus untuk mengolah materi ajarnya, bagaimana membuat materi tersebut menarik, mudah dipahami, dan tidak membosankan, melainkan harus belajar bagaimana membuat web, instalasi jaringan, e-learning, dll. Karena <em>smuwamuwa</em> udah dilahap guru, alhasil pekerjaan yang dihasilkan pun kurang optimal, membuat produk-produk IT sekenanya, semampunya, dan ketika kritik datang, dengan enteng dijawab &#8216;namanya juga baru belajar&#8230;!&#8217;, hahaha..(mau sampe kapan Om/Tante belajarnya, keburu mengorbankan 10 generasi anak didik Anda, baru Anda bisa membuat sistem dan developing IT dengan benar dan baik. Walaupun saya yakin banyak juga yang berjuang mati-matian membawa anak didiknya &#8216;melek IT&#8217;.</p>
<p><span id="more-69"></span>Mari kita berpikir untuk menciptakan peluang dan kerjasama, seperti halnya ketika membuat baju maka mintalah tukang baju/konveksi untuk membuatnya. Dari transaksi ini muncul perputaran uang, dan semakin cepat uang berputar, semakin tinggi pertumbuhan ekonomi Indonesia (betul ga ya??hihiihi..). Klo Anda para guru dan pembuat kebijakan sekolah, koq masih mau merebut jatah pekerjaan para engineer di negeri ini (misal bidang IT), sampe kapan negeri ini mau maju?</p>
<p>Dari data di situs <em>http://npsn.diknas.go.id</em>, tercatat ada sekitar 62ribu lebih sekolah tingkat menengah (SMP-SMA) di Indonesia. Seandainya pemerintah (atau sekolah) mempunyai kebijakan untuk menyerap 1 orang engineer saja (misal IT engineer), maka akan terserap lah pengangguran di Indonesia sebanyak 62ribu orang di bidang IT (bukan yang sok bisa macam saya ini lowh hehehe..).</p>
<p>UGM saja, setiap tahunnya hanya meluluskan sekitar 50-100 engineer IT (anggap semua lulusan berkualitas sama), maka dibutuhkan 620 tahun untuk UGM sendiri memberikan kontribusi melalui sarjana-sarjananya. Tentunya ini hitung2an kasar dengan mengabaikan beberapa aspek. Apabila ada 30 lembaga pendidikan tinggi di seluruh Indonesia yang mempunyai lulusan serupa, masih diperlukan 20-an tahun untuk memenuhi kebutuhan &#8216;engineer&#8217;.</p>
<p>Mari kita mengubah paradigma dalam mengarahkan pemilihan jurusan adek2 atau anak2 didik ketika memasuki jenjang perguruan tinggi. Setidaknya jika Indonesia punya &#8216;cetak biru&#8217; rencana pembangunan nasional, pasti paham apa yang dibutuhkan untuk mencapainya, termasuk sumber daya manusia di dalamnya. Go Indonesia!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://loommy.com/2007/09/indonesia-yang-miskin-engineer/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Puisi (Cahaya Bulan)</title>
		<link>http://loommy.com/2007/06/puisi-cahaya-bulan/</link>
		<comments>http://loommy.com/2007/06/puisi-cahaya-bulan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Jun 2007 19:34:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>loommy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspiration]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://loommy.wordpress.com/2007/06/15/puisi-cahaya-bulan/</guid>
		<description><![CDATA[Nicholas Saputra &#8211; Puisi (Cahaya Bulan) akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yg biasa pada suatu ketika yg telah lama kita ketahui apakah kau masih sambut dahulu memintaku minum susu sambil membenarkan letak leher kemejaku kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih lembah bandalawangi kau dan aku tegak berdiri melihat hutan” yg menjadi<a class="rmore" href="http://loommy.com/2007/06/puisi-cahaya-bulan/">&#160;&#160; Read More ...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center">
<p align="center"><a href="http://loommy.com/wp-content/uploads/2007/06/cahaya-bulan.jpeg"><img class="aligncenter size-full wp-image-444" title="cahaya bulan" src="http://loommy.com/wp-content/uploads/2007/06/cahaya-bulan.jpeg" alt="" width="265" height="402" /></a></p>
<p align="center"><em>Nicholas Saputra &#8211; Puisi (Cahaya Bulan)</em></p>
<p align="center">akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yg biasa<br />
pada suatu ketika yg telah lama kita ketahui<br />
apakah kau masih sambut dahulu memintaku minum susu<br />
sambil membenarkan letak leher kemejaku<br />
kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih<br />
lembah bandalawangi<br />
kau dan aku tegak berdiri melihat hutan” yg menjadi suram<br />
meresapi belaian angin yg menjadi dingin<br />
apakah kau masih membelaiku semesra dahulu<br />
ketika kudepak, kau dekaplah lebih mesra<br />
lebih dekat<br />
apakau kau masih akan berkata<br />
kudengar dekap jantungmu<br />
kita begitu berbeda dalam semua<br />
kecuali dalam cinta<br />
cahaya bulan menusukku dengan ribuan pertanyaan<br />
yg takkan pernah aku tahu dimana jawaban itu<br />
bagai letusan berapi bangunkan dari mimpi<br />
sudah waktunya berdiri mencari jawaban kegelisahan hati</p>
<p align="center">
<p align="left"><em>note : untuk segumpal darah dan daging yang entah berada dimana..my dear..</em></p>
<p align="left"><a title="ga perlu account premium" href="http://rapidshare.com/files/37405084/10_Puisi__Cahaya_Bulan_.mp3">download lagu </a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://loommy.com/2007/06/puisi-cahaya-bulan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
<enclosure url="http://rapidshare.com/files/37405084/10_Puisi__Cahaya_Bulan_.mp3" length="175" type="audio/mpeg" />
		</item>
	</channel>
</rss>

