nganggur dab..

Daya serap tenaga kerja untuk setiap 1 persen pertumbuhan ekonomi, merosot dari 500 ribu tenaga kerja menjadi sekitar 240 ribu tenaga kerja. Tidak aneh jika jumlah pengangguran terbuka mengalami lonjakan dari 9.1 juta orang pada 2002 menjadi 10.5 juta orang pada Februari 2007. (http://www.suaramerdeka.com/cybernews/harian/0605/19/nas5.htm)
===========================================================

Yaps, negara ini membutuhkan banyak sekali engineer untuk pembangunan. Kita melihat fenomena saat ini dimana engineering di bidang telekomunikasi begitu diperebutkan oleh vendor dan operator telco. Bagaimana tidak, jika pasar telco di Indonesia ditargetkan mencapai separuh dari populasi penduduk alias 100juta pengguna telepon? Bandingkan dengan Hongkong yang ‘hanya’ mempunyai 8 juta pengguna telepon (ya maklum laah, warganya juga berapa..). Wajar saja potensi pasar Indonesia sangat menjanjikan bagi stakeholder telco tersebut.

Di bidang lain misalnya, drilling engineer (minyak bumi & gas) terbaik Indonesia banyak yang bekerja pada perusahaan asing. Dan perusahaan tersebut menggaji engineer indo dari hasil kerjasama dengan pemerintah Indo yang diwakili oleh Pertamina. Ya, tentu saja menggaji engineer indo tidaklah seberapa dibanding keuntungan yang dikeruk dari ladang Indonesia. Bandingkan dengan Pertamina versi Malaysia (Petronas) yang mempertahankan engineer2-nya dengan gaji dan fasilitas yang tinggi, agar mereka tidak masuk ke perusahaan asing. Dan akhirnya terwujudlah ikon Malaysia, Petronas Twin Tower.

Di bidang yang saya tekuni saat ini yaitu IT, para engineer juga tak bisa banyak bergerak karena pemerintah ‘ngga’ mau menciptakan peluang kerja bagi para sarjana. Lihat saja, contoh terdekat di sekolah tingkat menengah (misalnya), sarana dan prasarana IT berikut pengembangannya dilakukan oleh guru. Konsekuensinya adalah, guru tidak dapat fokus untuk mengolah materi ajarnya, bagaimana membuat materi tersebut menarik, mudah dipahami, dan tidak membosankan, melainkan harus belajar bagaimana membuat web, instalasi jaringan, e-learning, dll. Karena smuwamuwa udah dilahap guru, alhasil pekerjaan yang dihasilkan pun kurang optimal, membuat produk-produk IT sekenanya, semampunya, dan ketika kritik datang, dengan enteng dijawab ‘namanya juga baru belajar…!’, hahaha..(mau sampe kapan Om/Tante belajarnya, keburu mengorbankan 10 generasi anak didik Anda, baru Anda bisa membuat sistem dan developing IT dengan benar dan baik. Walaupun saya yakin banyak juga yang berjuang mati-matian membawa anak didiknya ‘melek IT’.

Mari kita berpikir untuk menciptakan peluang dan kerjasama, seperti halnya ketika membuat baju maka mintalah tukang baju/konveksi untuk membuatnya. Dari transaksi ini muncul perputaran uang, dan semakin cepat uang berputar, semakin tinggi pertumbuhan ekonomi Indonesia (betul ga ya??hihiihi..). Klo Anda para guru dan pembuat kebijakan sekolah, koq masih mau merebut jatah pekerjaan para engineer di negeri ini (misal bidang IT), sampe kapan negeri ini mau maju?

Dari data di situs http://npsn.diknas.go.id, tercatat ada sekitar 62ribu lebih sekolah tingkat menengah (SMP-SMA) di Indonesia. Seandainya pemerintah (atau sekolah) mempunyai kebijakan untuk menyerap 1 orang engineer saja (misal IT engineer), maka akan terserap lah pengangguran di Indonesia sebanyak 62ribu orang di bidang IT (bukan yang sok bisa macam saya ini lowh hehehe..).

UGM saja, setiap tahunnya hanya meluluskan sekitar 50-100 engineer IT (anggap semua lulusan berkualitas sama), maka dibutuhkan 620 tahun untuk UGM sendiri memberikan kontribusi melalui sarjana-sarjananya. Tentunya ini hitung2an kasar dengan mengabaikan beberapa aspek. Apabila ada 30 lembaga pendidikan tinggi di seluruh Indonesia yang mempunyai lulusan serupa, masih diperlukan 20-an tahun untuk memenuhi kebutuhan ‘engineer’.

Mari kita mengubah paradigma dalam mengarahkan pemilihan jurusan adek2 atau anak2 didik ketika memasuki jenjang perguruan tinggi. Setidaknya jika Indonesia punya ‘cetak biru’ rencana pembangunan nasional, pasti paham apa yang dibutuhkan untuk mencapainya, termasuk sumber daya manusia di dalamnya. Go Indonesia!

Categories: Renungan, Urban

3 Responses so far.

  1. heheh…. cen ho oh. Barangkali kita harus jadi “engineer” mandiri, alias kalo bisa sih nyiptaiin lapangan kerja baru. Tur yo kuwi mau, birokrasi lagee….

  2. PriyayiSae says:

    OK.. mari kita didik anak-cucu kita utk menjadi enjinir semuanya… hidup enjinirrr! :)

  3. tiul says:

    haha.. maw ngabdi sama almamater koq susyah y mz? :D

Leave a Reply